Sabtu, 24 Agustus 2019

Sejarah Pendidikan Anestesi


§  Sejarah Pendidikan Perawat Anestesi di Dunia
-          Catherine Lawrence tahun 1860 (Perawat Anestesi pada perang dunia I) : Perawat anestesi menjadi suatu profesi dalam melakukan anestesi pada pernag dunia I.
-          Tahun 1889 – Berdiri sekolah Perawat Anestesi pertama yang dipimpin oleh Alice Magaw dengan karyanya mempublikasikan “A Reviuw of Over Fourteen Thousand Surgical Anesthetiscs in Sugery, Gynecology, and Obsetrics” membuktikan bahwa anestesi adalah suatu bagian dari keperawatan.
-          Tahun 1908-1915 ada Ahli Bedah lain yang terkemuka, George Crile mendirikan Pendidikan Perawat Anestesi yang kedua terbesar di Lakeside Hospital, di Cleveland, Ohio dengan Perawat Anestesi Agatha Hodgins sebagai pendidik utama.
-          Tahun 1916 sekolah anestesi ditutup dengan dikeluarkannya keputusan tidak ada orang lain yang boleh melakkan tindakan anestesi kecuali dokter anestesi yang terdaftar
-          Pada tahun 1917, dr Crile membujuk Medical Board untu mecabut perintahnya dan Hodgins mulai kembali mengajar Perawat Anestesi. Agar program pendidikan Perawat Anestesi di Latekeside tetap dibuka.
-          Tahun 1922, ketika Alice Hunt, seorang Perawat Anesesi menerima posisi akademik menjadi Asistem Profesor Anestesi. Hal ini menunjukkan pengakuan berkembanganya profesi perawat anestesi ke dalam pasca sarjana.
-          Pada abad 20, Dokter Anestesi terus menentang hak Perawat Anestesi untuk melakukan anestesi dengan beranggapan bahwa anestesi adalah hak milik pribadi dokter anestesi dan ilmu pengetahuan anestesi hanya disediakan untuk mereka yang sekolah kedokteran.
-          Akhir tahun 1920, para perawat anestesi menyadari tentang pentingnya organisasi profesi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien dan memeperkuat kemampuan anggotanya untuk menghadapi dari pihak lain.
-          Tanggal 17 Juni 1931 Hodgins akhirnya membuat NANA (National Association of Nurses Anesthetist). Terdapat 40 perawat anestesi yang mewakili 12 negara bagian bertemu di ruang kuliah di Lakeside Hospital di Cleveland. Agatha Hodgins terpilih sebagai presiden NANA yang pertama.
-          Kemudian NANA berubah menjadi AANA (American Assosiation pof Nursing Anesthetist) hingga saat ini.

Kronolgis Sejarah Pendidikan Anestesi di Dunia
Pada tahun 1860, terjadi perang sipil dan banyak korban yang memerlukan pembedahan. Pada saat itu banyak perawat yang direkrut untuk menjadi perawat anestesi untuk membantu operasi pembedahan para korban perang. Salah satu perawat yang terkenal adalah perawat Catherine Lawrence. Terjadi kontroversi tentang rasa aman tindakan pembedahan dan pembiusan setelah perang.  Untuk mengatasi masalah tersebut dan membuat anestesi dapat diterima oleh masyarakat, ahli bedah pada saat itu membujuk perawat agar bersedia mengambil alih anestesi  menjadi praktik keperawatan, dikerjakan oleh perawat terdidik.
Pada tahun 1870 dan tahun 1880 banyak suster katolik yang menjadi Perawat Anestesi, diantaranya yang terkenal adalah suter Mary Bernard, suster Aldoso Estric.. Prosefi perawat anestesi semakin berkembang pesat dengan Perawat Anestesi telah menciptakan suatu tindakan anestesi yang tidak hanya aman tapi juga mudah mendapatkan tenaganya.
Pada tahun 1889 berdiri institusi pendidikan Perawat Anestesi yang pertama, yang dipimpin oleh Perawat Anestesi dan mendidik bukan hanya perawat namun juga mendidik dokter anestesi, tokoh yang terkenal yaitu Minnesota di Rumah Sakit St Mary’s Hospital, salah saru cabang dari Rumah Sakit Mayo Clinic yang dipimpin oleh Ahli Bedah terkenal Dr.William  Worell Mayo, dan suter Alice Magaw adalah guru besar anestesinya. Suster Alice Magaw adalah Perawat Anestesi yang paling terkenal pada abad 19. Beliau menerima penghargaan internasional “The Mother of Anestesi Eter dan Clhoroform Dengan Teknik “Open Drop” dengan pengamatan yang sangat cermat terhadap tanda-tanda dan kedalaman anestesi, observasi tanda-tanda vital, manajemen pernafasan yang sempurna ditambah dengan empati dan penanganan yang feminim sehingga menghasilkan anestesi yang aman dan nyaman dan menjadikannya terkenal.
Alice Magaw juga membuat suatu kontribusi yang besar terhadap kemajuan anestesi. Beliau mempublikasikan tulisannya “Obsevations on 1992 Cases of Anesthesia from January 1, 1899 to January 1, 1900” yang diterbitkan oleh St.Paul Medical Journal. Pada bualn Desember 1906, beliau juga mempublikasikan “A Reviuw of Over Fourteen Thousand Surgical Anesthetiscs in Sugery, Gynecology, and Obsetrics”. Magaw melaporkan penggunaan eter dan chloroform dengan teknik open drop tanpa terjadinya mortalitas. Tulisan ini telah mengubah klinisi diseluruh dunia dan sangat berperan dalam kasus-kasus pengendalian yang besar selama 30 tahun kemudian yang menetapkan legalitas anestesi sebagai bagian dari keperawatan. Tulisan yang dilakukan oleh Magaw dan yang diselesaikan secara kontenporer atas elemen-elemen dasar obat-obatan dan praktikya, hal ini merupakan tonggak yang kokoh yang membuktikan bahwa anestesi adalah suatu bagian dari keperawatan.
Pada tahun 1908 ada Ahli Bedah lain yang terkemuka, George Crile mendirikan Pendidikan Perawat Anestesi yang kedua terbesar di Lakeside Hospital, di Cleveland, Ohio. Dr. Crile menjadikan Suster Agatha Hodgins sebagai anesthetist pribadi untuk dirinya. Agatha Hodgins menggunakan nitrous oxide – oxygen anesthesia pada tahun 1909 dan telah menyelesaikan 575 pembedahan secara sukses dengan teknik ini. Keberhasilannya ini membuat Ahli Bedah yang berkunjung ke rumah sakit terkesan dan mengirimkan para perawatnya untuk dididik menjadi praktisi anestesi oleh Agathe Holdings. Pendidikan anestesi Lakeside secara formal didirikan tahun 1915 setelah Holdings kembali dari tugas Perang Dunia I. Holdings pernah bertugas di Perancis bersama Dr.Crile dan Unit Lakesade untuk pelayanan dalam America Ambulance Hospital bulan Desember 1914 sampai pertengahan tahun 1915. Perawat Anestesi telah sangat berjasa pada Perang Dunia I. Pada tahun 1916 ketika Dr. Crile dan Holdings kembali ke Cleveland, mereka menghadapi tantangan yang besar atas hak Perawat untuk melakukan tindakan anestesi yaitu terdapat keputusan tidak ada orang lain yang boleh melakkan tindakan anestesi kecuali dokter anestesi yang terdaftar. Bersama dengan keputusan tersebut pula sekolah pendidikan anestesi ditutup.
Pada tahun 1917, dr Crile membujuk Medical Board untu mecabut perintahnya dan Hodgins mulai kembali mengajar Perawat Anestesi. Suaya program pendiidkan Peawat Anestesi di Latekeside tetap dibuka. Dr Crile dan Hodgins menandatangani DPR Ohio untuk memperoleh pengecualian dalam undang-undang Praktik Kedokteran yaitu bagi Perawat Anestesi yang telah menempuh pendidikan yang memadai dapat memberika anestesi dibawah pengawasan dokter. Ini perama kalinya ada suatu pengawasan terhadap praktik Perawat Anestesi oleh dokter dan dicantumkan dalam undang-undang. Pada tahun 1914 telah ada 4 buh pendidikan formal Perawat Anestesi, ysng pertama di Portland, kemudian St John’s di Springfild, lalu New York Post Graduate Hospital dan selanjutnya pendidikan Perawat Anestesi pindah dalam rumah sakir Universitas serta rumah sakit umum yang besar diseluruh negeri.
Kemajuan besar pendidikan anestesi terjadi di Yale Medical School pada tahun 1922, ketika Alice Hunt, seorang Perawat Anesesi menerima posisi akademik menjadi Asistem Profesor Anestesi. Hal ini menunjukkan pengakuan berkembanganya profesi perawat anestesi ke dalam pasca sarjana. Penerimaan masyarakat terhadap perawat anestesi, baik sebagai pendidik maupn klinisi. Tidak terbantahkan lagi bahwa perawat anestesi yang telah sedemikian besar kontribusinya dalam pelayanan dan perkembangan anestesi sepanjang 85 tahun setelah ditemukannya anestesi pada tahun 1846, telah membuktikan bahwa perawat anestesi adalah pembius handal.  Pelayanan anestesi apabila diberi tugas ini adalah perawat anestesi. Hingga terdapat konflik terkait siapa penemu anestesi eter yang menyebabkan konflik dikemudian hari. Sepanjang abad 20, Dokter Anestesi terus menentang hak Perawat Anestesi untuk melakukan anestesi dengan beranggapan bahwa anestesi adalah hak milik pribadi dokter anestesi dan ilmu pengetahuan anestesi hanya disediakan untuk mereka yang sekolah kedokteran.
Terdapat dua berkas perkara yang menetanghak praktik Perawat Anestesi dalam pemberian anestesi yang dianggap merupakan milik dokter. Frank v South di Kentucky dan Chalmers Francis v Nelson di California. Kedua kasus itu dimenangkan oleh Perawat Anestesi, tetapi hal tersebut nmenyadarkan tentang pentingnya organisasi profesi, maka Agatha Hodgins mewujudkan hal tersebut. Pada akhir tahun 1920, para perawat anestesi menyadari tentang pentingnya organisasi profesi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien dan memeperkuat kemampuan anggotanya untuk menghadapi dari pihak lain.
Tahun 1930 dalam konvensi Asosiasi Perawat Amerika (ANA). Hodgins mempresentasikan makalahnya dan berharap menjadi seminar dalam ANA namun ditolak. Pada tanggal 17 Juni 1931 Hodgins akhirnya membuat NANA (National Association of Nurses Anesthetist). Terdapat 40 perawat anestesi yang mewakili 12 negara bagian bertemu di ruang kuliah di Lakeside Hospital di Cleveland. Agatha Hodgins terpilih sebagai presiden NANA yang pertama. Pada saat yang sama, diseluruh negara bagian terbentuk asosiasi Perawat Anestesi. Satu persatu mereka bergabung menjadi organisasi nasional perawat anestesi. Sekarang NANA berubah menjadi AANA (American Assosiation pof Nursing Anesthetist).


§  Sejarah Pendidikan Perawat Anestesi di Indonesia
Pada tahun 1954, dr. Mohamad Kelan, adalah dokter Indonesia pertama yang terjun ke dalam bidang anestesi dan merupakan dokter ahli anestesi yang pertama di Indonesia, setelah belajar di USA. Pada tahun 1962, beliau mencetuskan untuk mengadakan program pendidikan Penata Anestesi di bawah naungan Departemen Kesehatan RI, meniru Program Pendidikan Perawat Anestesi di Amerika Serikat. Sejak saat itu, berkembanglah dan bertambahlah jumlah tenaga perawat yang menjadi perawat anestesi, yang semula dalam bentuk program pendidikan peƱata anestesi yang lama pendidikannya adalah mula-mula selama 1 tahun, kemudian berubah menjadi 2 tahun dan kemudian ditingkatkan menjadi Akademi Anestesi yang lama pendidikannya adalah selama 3 tahun.
Di Indonesia, gambaran singkat sejarah pendidikan perawat anestesi berkembang mulai dari tahun 1962 sampai sekarang. Perubahan program pendidikan anestesi ini dapat dilihat dari gambaran singkat dibawah ini:
1.      Sekolah Penata anestesi Kimia disahkan oleh Depkes Nomor 107/Pend/Sep 1962 tanggal 11 September 1962.
Merupakan pendidikan Akademi Anestesi pertama yang didirikan sejak tahun 1962 dan berlokasi di Jl. Kimia No. 22 Jakarta Pusat dengan lama pendidikannya selama 1 tahun. Saat ini, AKPER Anestesi ini melebur menjadi satu dengan AKPER Depkes Jakarta, AKPER Persahabatan, AKBID Harapan Kita, AKBID Cipto Mangunkusumo dan Analis Kesehatan menjadi Poltekkes Kemenkes Jakarta III sesuai Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI nomor 298/MENKES-KESOS/SK/IV/2001. Pendidikan Anestesi ini kemudian menjadi Program Studi DIII Keperawatan Anestesi.
Pada tahun 2007 Program Studi D III Keperawatan Anestesi berubah menjadi Program Studi Keperawatan, karena diberlakukannya undang-undang praktik kedokteran dan permintaan dari Ikatan Dokter Anestesi Indonesia (IDAI) pusat untuk merubah istilah atau sebutan Perawat Anestesi menjadi Perawat Kamar Bedah, yang pada dasarnya tidak ada perbedaan dengan lulusan Prodi DIII Keperawatan, hanya mendapat tambahan muatan institusi yaitu Keperawatan Anestesi. Berdasarkan hal tersebut, maka Program Studi DIII Keperawatan Anestesi ditutup pada tahun 2012.

2.      Program Pendidikan Akademi Anestesi  ( tahun 1966  s/d 1986)
Program pendidikan Akademi Anestesi Depkes RI merupakan program pendidikan yang menerima calon mahasiswa yang berasal dari  lulusan Perawat yang telah berpengalaman kerja minimum 1 tahun. Kurikulum teori dan praktik menyerupai kurikulum program pendidikan dokter spesialis anestesi,  dan lamanya program pendidikan ini adalah selama 3 (tiga) tahun. Program ini dimulai sejak tahun 1966  s/d 1986 dan umumnya mahasiswa yang masuk pendidikan ini adalah Perawat yang mendapat tugas belajar dari instansi diseluruh Indonesia. Dalam periode ini juga masih  banyak rumah sakit pemerintah yang menyelenggarakan kursus Perawat Anestesi selama satu tahun untuk memenuhi kebutuhan tenaga anestesi dirumah-sakit terutama didaerah diluar pulau Jawa.
·      Isi Program           :  Akademi Anestesi.
·      Teori                     :  – Ilmu Keperawatan 10 % -  Ilmu Sosial 10 % – Ilmu Anestesi & Medis 80 %
·      Praktik                  :  – Anestesi, Emergency, ICU, mulai dari semester I sampai VI.

3.      Program Pendidikan Akademi Keperawatan Anestesi / Pendidikan Ahli Madya Keperawatan Anestesi  (tahun 1985 s/d 2006    ) :
·      Dalam program ini diberikan 8 SKS  teori anestesi dan program pelatihan  / praktik anestesi selama 6 (enam) bulan.
·      Isi Program           : Akpernes / Ahli Madya Keperawatan Anestesi.
·      Teori                     : – Ilmu Keperawatan 80 %  - Ilmu Sosial 10 % – Ilmu Anestesi 10 %
·      Praktik                  : – Keperawatan  dan  ditambah  praktik  Anestesi selama 1 ( satu ) Semester.
Namun akibat terjadinya perubahan nama program pendidikan dan juga kurikulum pendidikan Perawat Anestesi pada tahun 1985, dari Akademi Anestesi menjadi Akademi Keperawatan Anestesi, maka Dewan Pengurus Pusat IKLUM AKNES mengambil inisiatif untuk mengadakan Musyawarah Nasional guna merubah nama organisasi yang dapat menjadi wadah seluruh alumni program Pendidikan Perawat Anestesi, karena IKLUM AKNES itu hanya menjadi wadah Alumni Akademi Anestesi, sedangkan alumni program Akademi Keperawatan Anestesi tidak terakomodasi dalam organisasi ini.  Maka pada tanggal 01 Oktober 1986 organisasi IKLUM AKNES dirubah namanya menjadi IKATAN PERAWAT ANESTESI INDONESIA ( IPAI ).
a.       Akademi Keperawatan Anestesi Surabaya No.2082/Diknas/ BP/IX/1985 tanggal 12 Setember 1985
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Pusdiknakes) Departemen Kesehatan RI membuka dan melaksanakan pendidikan kedinasan bidang kesehatan. Penyelenggaraan Pendidikan Anestesi Surabaya yang merupakan sekolah Jenjang Pendidikan Menengah (JPM) kemudian dikonversi menjadi Jenjang Pendidikan Tinggi (JPT) dengan dikembangkan kelembagaannya menjadi Politeknik Kesehatan Surabaya (Poltekkes) termasuk diantaranya adalah 13 Akademi Kesehatan yang ada di Jawa Timur melembaga menjadi Politeknik Kesehatan Surabaya sesuai dengan Surat Keputusan Menkes-Kesos Nomor 1207/MENKES-KESOS/SK/2001 tanggal 12 Nopember 2001.
Pada tahun 2007, Program Studi Keperawatan Anestesi Surabaya ditiadakan, sehingga Politeknik Kesehatan Surabaya terdiri dari 6 Jurusan dengan 12 Program Studi.
b.      Keputusan  Menteri Kesehatan No. OT.01.0114006361 Tanggal 20 Maret 2008 tentang pembentukan Diploma IV Keperawatan Anestesi Reanimasi Poltekkes Yogyakarta
Politeknik Kesehatan (POLTEKKES) Kemenkes Yogyakarta berdiri sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia No.: 298/Menkes-Kessos/SK/IV/2001. POLTEKKES merupakan fusi dari 6 Akademi Kesehatan Depkes RI yang ada di Yogyakarta.
Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsinya, selain Prodi D-III di atas, Politeknik Kesehatan Kemenkes Yogyakarta telah menyelenggarakan Prodi D-IV (Sarjana Terapan) secara bertahap, dan di tahun 2008 berhasil dibuka Prodi D-IV Keperawatan Anestesi-Reanimasi yang merupakan satu-satunya Program Studi di Indonesia sampai dengan saat ini dengan pembaruan yaitu penerimaan mahasiswa dari SMA/ bukan alih jenjang .      Pada tahun 2011 dan 2012 Ikatan Perawat Anestesi Indonesia (IPAI) mendapat perintah dari Pusdiktinakes untuk menyelenggarakan pelatihan ilmu anestesi kepada Alumni Program Studi Keperawatan Anestesi dan dilaksankan secara marathon terus menerus selama tiga bulan baik teori maupun praktek, untuk tahun 2011 berkerjasama dengan RSCM dengan dosen-dosen dari UI dan Anestesi RS Persahabatan, RSUD KOJA, RSUD Tanggerang, RSUD Cibinong Bogor, RASU Halim Perdana Kusuma, RSUD Kerawang. Untuk gelombang kedua tahun 2012 untuk teori diselenggarakan kerjasama dengan bagian anestesi RD Pusat Fatmawati Jakarta dan lahan praktek bekerjasama dengan RSUD Bayu Asih Purwakarta.



























DAFTAR PUSTAKA
      . 2014. Renstra Poltekes Kemenkes Yogyakarta 2015 s.d 2019. Yogyakarta: Poltekkes Yogyakarta
      . 2014. Renstra Politeknik Kesehatan Jakarta III tahun 2014 s.d 2015. Jakarta: Poltekkes Jakarta III
Foster, dan Lorraine. 1994. Professional Aspects of Nurse Anesthesia Practice. Diakses di https://books.google.com/ pada hari Kamis, 13 Oktober 2016
Perawat Anestesi. 2013. Sejarah Singkat Perawat Anestesi. Diakses di http://perawatanestesiindonesia.blogspot.co.id pada hari Kamis, 13 Oktober 2016
Sejarah. 2012. Profil Perawat Anestesi. Diakses di www.dpdipaipropinsibanten.com pada hari Kamis, 13 Oktober 2016


MANAJEMEN RISIKO ANESTESI


Manajeman Risiko di Anestesi

            Manajemen risiko di anestesi merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah atau mengendalikan terjadinya risiko kesalahan, menghindari risiko dan efek negatif tertentu dalam anestesi. Manajemen risiko dilakukan untuk mengurangi angka morbilitas dan mortalitas yang berhubungan dengan anestesi. Strategi yang dapat digunakan dalam melakukan manajemen risiko anestesi yaitu dengan mengecek dokumen dari peralatan, tidak ada perubahan anestesi selama anestesi berlangsung dan kehadiran penuh waktu sengan pekerjaan anestesi. Manajemen risiko melibatkan semua aspek perawatan anestesi diantaranya yaitu : (1) deteksi masalah, (2) pengkajian masalah, (3) implementasi solusi, dan (4) verifikasi efektivitas.
A.    Efek Samping yang Berhubungan dengan Anestesi
Dibandingkan dengan anestesi yang dilakukan pada dekade sebelumnya, anestesi sekaraang ini jauh lebih aman. Penelitian terbaru melaporkan tingkat mortalitas esklusif dengan anestesi 1 : 100.000 – 1 : 500.000. Efek samping anestesi yang sering terjadi yaitu insiden cidera otak parah (data base Jepang 1 : 170.000), gangguan kesadaran (kisaran 0,1 – 0,4%), kerusakan saraf tepi yang berkaitan dengan penempatan persepsi (1 : 10.000) karena blok saraf perifer, akar serabut tulang belakang atau kerusakan saraf (0,15%) dan anafilaksis (0,01%), luka ringan yang termasuk kerusakan gigi aau mata, nyeri atau gangguan rasa nyaman selama operasi, luka bakar dari prosedur yang terkait praktik anestesi seperti penyiapan kateter vena sentral.

B.     Analisis insiden terdiri 4 langkah :
1)      Identifikasi masalah
Menditeksi faktor risiko sebelum kecelakaan terjadi. Insiden umum dan serius harus ditangani segera.
2)      Penilaian masalah (s) dan mengidentifikasi penyebab (terutama yang dicegah paling umum)
3)      Mengidnetifikasi “Pelakunya” bukan bagian dari manajemen risiko. Inisiatif medis harus jelas dipisahkan
4)      Identifikas dan persiapan solusi periksa efektifitas perubahan kedepan.


C.     Ancaman Terhadap Manjemen Risiko
Ancaman yang dapat terjadi yaitu adanya pemotongan biaya dalam perawatan medis yang mungkin merupakan masalah utama dalam beberapa anacaman. Tuntutan pasien yang mengharapkan standar yang lebih tinggi dan lebih tinggi dari keamanan rumah sakit dan pimpinan rumah sakit menerapkan “untuk berbuat lebih banyak dengan lebih sedikit” dan “untuk meningkatkan dengna sumber daya yang sama”. Persiapan operasi yang kurang memadai paling sering memiliki kemungkinan kesalahan paling sering. Risiko terjadinya kesalahan dapat terjadi akibat rendahnya tingkat perawatan dan keselamatan yang ada.

D.    Proses
Prosedur harus didokumentasikan dan direvisi secara berkala. Daftar lengkap diluar ruang operasi yang membutuhkn protokol meliputi evalusi anestesi, pra induksi evaluasi ulang, . selama periode perasi data record dokumen data, kriteria transfer ke bangsal bedah, manajemen peralatan dan memeriksa kembali peralatan-peralatan.

E.     Peralatan
Kebijakan untuk pembelian peralatan harus tersedia dan termasuk kriteria keselamatan pasien. Potokol untuk cek pra anestesi dan peralatan-peralatan harus diperbaharui.

F.      Personil
Faktor anusia diangap penyebab utama terjadinya kesalahan, dengan tingkat 70% samapai 80% dari kasus. Petugas anestesi diharapkan menjadi terampil, berpengetahuan, berhati-hati saat memantau pasien saat dianestesi, mempersiapkan peralatan-peralatan, dan siap untuk mengelola pasien kritis yang menderita penyakit.
Untuk mengatasi kesalahan yang terjadi akibat manusia maka disusun strategi yang dilakukuan. Strategi ini termasuk pengawasan, evaluasi sebelum operasi, perbaikan peralatan, dan pemantauan tambahan, prosedur khusus untuk meminimalisir kesalahan manusia (yaitu pelabelan jarum suntik untuk menghindari swap jarum suntik). Kedua pelatihan anestesi harus dilakukan yaitu dengan pelatihan terkait pemberian topik keselamatan pasien dan kinerja manusia. Serelah dilakukan pemberian topik selanjutnya akan dievaluasi secara berkala per indiidu.

G.    Inisiatif Baru-Baru Ini
Selama tahun 2008 organisasi keselamatan dunia WHO mengusulkan inisiatif tentang keselamatan ruang operasi. WHO meluncurkan kampanye “Bedah Aman Penyelamatan Hidup” untuk mengatasi keamanan  perawatan bedah. Mudah checklist keselamatan bedah untuk digunakan di kamar bedah diusulkan sebagai alat utama. WSA diperbarui tahun 1993 mengeluarkan standart aman praktek anestesi. Daftar periksa yang disorot yaitu peran sentral dari anestesi yang terlatih dengan baik.
Pada tahun 2008, American Society of Logist Anesthesio mengeluarkan pedoman produksi untuk checkout (PAC) prosedur pa anestesi.pedoman meliputi 15 item tertentu untuk diperiksa sebelum pengiriman anestesi. Pedoman ini juga mencangkup frekuensi pemeriksaan dan pihak yang bertanggung jawab.

H.    Arah Masa Depan
Topik-topik berikut harus menjadi bagian dari evolusi di masa depan :
1)      Banyak dokter merasakan keengganan sesegera dan berkembang untuk menyusun statistik, mengisi formulir atau membaca prosedur. Manajemen risiko harus menjadi efisien serta mampu menghindari beban yang tidak perlu dan fokus untuk masalah yang relevan.
2)      Budaya keselamatan belum menjadi konsep bersama anatara petugas kesehatan. “Baris pertama” semua anggota harus lebih baik dalam semua aspek manajemen risiko anestesi.
3)      Untuk meminimalkan hasil negatif, perbaikan harus dilakukan dalam apa yang mendahului dan mengikuti operasi. Sebuah evaluasi pra anestesi dapat dilakukan penilaian risiko, persiapan pasien yang memadai, dan meminimalisir risiko..
4)      Pendidikan pasien yang lebih baik dapat menjadi faktor keberhasilan manajemen risiko hal ini mampu meminimalkan risiko terkait anestesi. American Society of Anesthesiologist (ASA) dan  SIAARTI memberikan pasien kesempatan untuk belajar tentang praktek anestesi.
5)      Beberapa daerah yang hampir sepenuhnya tidak tereksplore anestesi di ruang operasi dan rawat jalan adalah bidang dengan tingkat risiko yang berpotensi tinggi.
6)      Manajemen resiko terkait dengan perubahan sistem organisasi harus dilakukan solusi kreatif dan inovatif yang ada dan diuji. Mode aman ditingkatkan dan dibuat lebih aman.

TRANSFUSI DARAH SELAMA ANESTESI


Transfusi Darah Selama Anestesi
A.    Pengertian Transfusi Darah
Transfusi darah merupakan bagian pelayanan kesehatan utama dalam sistem perawatan kesehatan dan individu yang menyumbangkan darah mereka, memberikan kontribusi yang unik bagi kesehatan yang menyelamatkan jutaan nyawa dan kelangsungan hidup orang lain setiap tahun, memungkinkan intervensi medis dan bedah yang semakin merumitkan dan secara dramatis meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup pasien dengan berbagai kondisi akut dan kronis (WHO, 2010).
Menurut  Peraturan  Pemerintah  RI No.  7  tahun  2011,  pelayanan  darah adalah suatu upaya pelayanan kesehatan yang memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan kemanusiaan dan tidak untuk tujuan komersial. Sedangkan,   pelayanan   transfusi   darah   merupakan   suatu   upaya   pelayanan kesehatan yang meliputi perencanaan, pengerahan dan pelestarian (recruitment) donor darah, penyediaan darah, pendistribusian darah, dan tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan (PP RI No.7, 2011).
Menurut Astuti dan Laksono (2013), transfusi darah adalah suatu proses menyalurkan darah atau produk darah dari satu orang ke sistem peredaran darah orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan oleh trauma, operasi, syok dan tidak  berfungsinya  organ  pembentukan  sel  darah  merah.  Penggunaan  darah berguna bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan pasien (Astuti dan Laksono, 2013).

B.     Pengertian Anestesi
Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit  ketika  dilakukan  pembedahan  dan  berbagai  prosedur  lain yang menimbulkan rasa sakit, dalam hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan  untuk  menciptakan   kondisi  optimal  bagi pelaksanaan  pembedahan  (Sabiston, 2011).



C.     Transfusi Darah Selama Anestesi
Berdasarkan sistem antigen telah dikenal lebih dari 20 golongan darah. Untuk kepentingan klinik hanya dikenal 2 sistem penggolongan darah yaitu sistem ABO dan sistem Rh. Sebagian besar pasien mempunyai sistem Rh+ (85%) dan sisanya 15% sistem Rh-. Jenis golongan darah dan kekerapannya dapat dilihat pada tabel 1.
Untuk mengetahui jmlah volme darah seseorang, biasanya digunakan patokan berat badan, seperti yang terlihat pada tabel 2. Makin aktif secara fisik seseorang, makin besar pula voolume darahnya umtuk setiap kilogram berat badannya. (Latief, 2001)

Tabel 1. Jenis Golongan Darah ABO
  TIPE                              Adanya antibodi dalam serum                              Insidensi*
     A                                                anti– B                                                      45%
     B                                                anti – A                                                       8%
   AB                                                    -                                                              4%
      O                                            anti A, anti–B                                                 43%
* angka rata-rata  pada orang di Eropa
Tabel 2. Volume Darah
Usia
ml/kgBB
Prematur
95
Cukup bulan
85
Anak kecil
80
Anak besar
75-80
Dewasa

Pria
75
Wanita
65
(Latief, 2001)
1.      Tujuan Transfusi Selama Anestesi (buku 2)
a.       Mengganti volume darah yang hilang selama operasi
b.      Koreksi terhadap faktor pembekuan.
2.      Indikasi Transfusi Darah Selama Anestesi (buku 1atief)
Transfusi darah umumnya >50% diberikan pada saat perioperatif dengan tjuan untuk menaikkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravaskuler. Kalau hanya menaikkan volume intravaskuler saja cukup dengan koloid atau kristaloid.
Indikasi transfusi darah ialah:
·         Perdarahan akut sampai Hb <8 gr% atau Ht <30%. Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung Hb <10 gr/dl.
·         Bedah mayor kehilangan darah >20% volume darah.
3.      Cara Menentukan Jumlah Perdarahan Selama Anestesi  (buku 2)
Banyaknya darah yang hilang selama pembedahan dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut :
a.       Jumlah darah yang tertampung pada botol isap
b.      Jumlah darah yang terdapat pada kaa luka operasi. Kasa pembersih yang dipakai untuk membersihkan luka operasi ditimbang sebelum dan sesudah dipergunakan. Selisih berat kasa antara sesudah dan sebelum dipakai sama dengan jumlah yang dikandungnya, 1 gram setara dengan 1 ml darah.
c.       Jumlah darah yang tercecer di lantai, meja dan kain pentup pasien, jumlahnya diperkirakan sebesar 25% dari jumlahnya diperkirakan sebesar 25% dari jumlah perdarahan yang diukur pada butir 1 dan 2 tersebt di atas.
4.      Tranfusi darah masif
Transfusi darah masif umumnya didefinisikan sebagai kebutuhan transfusi satu sampai dua kali volume darah pasien. Pada kebanyakan pasien dewasa, equivalent dengan 10-20 unit.4
a.  Koagulopati
Penyebab utama perdarahan setelah transfusi darah masif adalah dilutional thrombocytopenia. Secara klinis dilusi dari faktor koagulasi tidak biasa terjadi pada pasien normal. Pelajari koagulasi dan hitung trombosit, jika tersedia, idealnya menjadi acuan transfusi trombosit dan FFP. Analisa viskoelastis dari pembekuan darah (thromboelastography dan Sonoclot Analyze) juga bermanfaat.4
b. Keracunan Sitrat
Kalsium berikatan dengan bahan pengawet sitrat secara teoritis dapat menjadi penting setelah transfusi darah dalam jumlah besar. Secara klinis hipokalsemia penting, karena menyebabkan depresi jantung,  tidak terjadi pada  pasien normal kecuali jika transfusi melebihi 1 U tiap-tiap 5 menit. Sebab metabolisme sitrat terutama di hepar, pasien dengan penyakit atau disfungsi hepar (dan kemungkinan pada pasien hipotermi) memerlukan infus kalsium selama transfusi masif.4
c.  Hipotermia
Transfusi Darah massif adalah merupakan indikasi mutlak untuk semua produk darah cairan intravena hangat ke temperatur badan normal. Aritmia Ventrikular dapat menjadi fibrilasi, sering terjadi pada temperatur sekitar 30°C. Hypothermia dapat menghambat resusitasi jantung. Penggunaan alat infus cepat dengan pemindahan panas yang efisien sangat efisien telah sungguh mengurangi timbulnya insiden hipotermia yang terkait dengan transfuse.4
d.  Kelainan Asam Basa
Walaupun darah yang disimpan adalah bersifat asam dalam kaitan dengan antikoagulan asam sitrat dan akumulasi dari metabolit sel darah merah (karbondioksida dan asam laktat), berkenaan dengan metabolisme  asidosis metabolik yang berkaitan dengan transfusi tidaklah umum. Yang terbanyak dari kelainan asam basa setelah tranfusi darah masif adalah alkalosis metabolik postoperatif. Ketika perfusi normal diperbaiki, asidosis metabolik berakhir dan alkalosis metabolik progresif terjadi, sitrat dan laktat yang ada dalam tranfusi dan cairan resusitasi diubah menjadi bikarbonat oleh hepar.4
e.  Perubahan Konsentrasi Kalium Serum
Konsentrasi kalium ekstraselular dalam darah yang disimpan meningkat  dengan waktu. Jumlah kalium ekstraselular yang transfusi pada unit masing-msaing kurang dari 4 mEq perunit. Hyperkalemia dapat berkembang dengan mengabaikan umur darah ketika transfusi melebihi 100 mL/min. Hypokalemia biasanya ditemui sesudah operasi, terutama sekali dihubungkan dengan alkalosis metabolik.4

5.      Komplikasi Transfusi Darah Selama Anestesi
a. Reaksi Hemolitik
kekerapan 1:6000 akibat destruksi eritrosit-donor oleh antibodi-resipien dan sebaliknya. Jika jumlah tranfusi <5% volume darah, reaksi tak begitu gawat. Pada pasien sadar ditandai oleh demam, menggigil, nyeri dada-panggul dan mual. Pada pasien dalam anestesi ditandai oleh demam, takikardi tak jelas asalnya, hipotensi, perdarahan merembes di daerah operasi, syok, spasme bronkus dan selanjutnya Hb-uria, ikterus dan renal shut down.
b. Infeksi
1. virus (hepatitis, HIV-AIDS, CMV)
2. Bakteri (stafilakokok, yesteria, citrobakter)
3. Parasit (malaria)
c. Lain-lain
Demam, urtikaria, anafilaksis, edema paru nonkardial, purpura, intoksikasi sitrat, hiperkalemia, asidosis.